Loading...

Sabtu, 18 Desember 2010

MAKALAH INDUSTRI KIMIA
PROSES PEMISAHAN MINYAK BUMI
(Separation Processes)

D
I

S
U
S
U
N

Oleh,
  Nama     : .........................
    

Dosen Pengasuh,
.................................



PROGRAM STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS BINA DARMA
PALEMBANG
2010

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr. Wb
Dengan puji serta syukur serta atas rahmat dan hidayah dari Allah SWT yang telah memberikan kita begitu banyak nikmat yang tak ternilai harganya dengan apapun. Shalawat serta salam tak lupa kita curahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita kembali kejalan yang di ridhoi oleh Allah SAW. Rasa syukur juga kita limpahkan karena telah menyelesaikan laporan yang fungsinya untuk mengetahui beberapa alat industri kimia. 
Alhamdulillah laporan ini telah selesai dengan baik, sehingga bisa membantu kita untuk memahami beberapa alat-alat industry Semoga apa-apa yang telah kita perbuat senantiasa mendapatkan ridhoa dari Allah SWT, serta bermanfaat bagi kita semua. Karena sesuatu yang baik adalah milik Allah SWT dan sesuatu yang kurang baik senantiasa tak luput dari kesalahan manusia yang tenpatnya salah dan lupa. Mudah-mudahan  hasil ini memcerminkan kita kearah yang lebih baik lagi dan terus berusaha semampu kita untuk memberikan yang terbaik. Amin
Wassalamualaikum. Wr. Wb





Penulis,


Riwanto
BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Minyak bumi adalah suatu senyawa hidrokarbon yang terdiri dari karbon (83-87%), hidrogen (11-14%), nitrogen (0,2-0,5%), sulfur (0-6%), dan oksigen (0-3,5%). Proses produksi minyak dari formasi tersebut mempunyai kandungan air yang sangat besar, bahkan bisa mencapai kadar lebih dari 90%. Selain air,juga terdapat komponen komponen lain berupa pasir, garam-garam mineral, aspal, gas CO2 dan H2S. Komponen-komponen yang terbawa bersama minyak ini menimbulkan permasalahan tersendiri pada proses produksi minyak bumi. Air yang terdapat dalam jumlah besar sebagian dapat menimbulkan emulsi dengan minyak akibat adanya emulsifying agent dan pengadukan. Selain itu hal yang tak kalah penting ialah adanya gas CO2 dan H2S yang dapar menyebabkan korosi dan dapat mengakibatkan kerusakan pada casing, tubing, sistem perpipaan dan surface fasilities. Sedangkan ion-ion yang larut dalam air seperti kalsium, karbonat, dan sulfat dapat membentuk kerak (scale). Scale dapat menyebabkan pressure drop karena terjadinya penyempitan pada sistem perpipaan, tubing, dan casing sehingga dapat menurunkan produksi.
Sumber energi yang banyak digunakan untuk memasak, kendaraan bermotor dan industri berasal dari minyak bumi, gas alam dan batu bara. Ketiga jenis tersebut bahan bakar tersebut berasal dari pelapukan sisa-sisa organisme sehinggga disebut bahan bakar fosil. Minyak bumi dan gas alam berasal dari jasad renik lautan, tumbuhan dan hewan yang mati sekitar 150 juta tahun yang lampau.Sisa-sisa organisme itu mengendap di dasar lautan yang kemudian ditutupi oleh lumpur. Lapisan lumpur tersebut lambat laun berubah menjadi batuan karena pengaruh suhu dan tekanan lapisan di atasnya. Sementara itu,dengan meningkatnya tekanan dan suhu, bakteri anaerob menguraikan sisa-sisa jasad renik itu dan mengubahnya menjadi minyak dan gas.

Proses pembentukan minyak dan gas ini memakan waktu jutaan tahun.Minyak dan gas yang terbentuk meresap dalam batuan yang berpori bagaikan air dalam batu karang. Minyak dan gas dapat pula bermigrasi dari suatu daerah ke daerah lain, kemudian terkonsentrasi jika terhalang oleh lapisan yang kedap. Walaupun minyak bumi dan gas alam terbentuk di dasar lautan, banyak sumber minyak dan gas yang terdapat di daratan. Hal ini terjadi karena pergerakan kulit bumi, seingga sebagian lautan menjadi daratan.
•    Komposisi Gas Alam, Minyak Bumi, dan Batu Bara
Gas alam terdiri dari alkana suhu rendah yaitu metana,etana,propana,dan butana dengan  metana sebagai komponen utamanya. Selain itu alkana juga terdapat berbagai gas lain seperti  karbon dioksida (CO2) dan hidrogen sulfida (H2S). Alkana adalah golongan senyawa yang kurang reaktif karena sukar bereaksi sehinggga disebut parafin yang artinya afinitas kecil. Reaksi penting dari alkana adalah pembakaran, substitusi, dan perengkahan (Cracking).

•    Pengelolaan Minyak Bumi
Minyak bumi biasanya berada 3-4 km di bawah permukaan. Minyak bumi diperoleh dengan membuat sumur bor. Di Indonesia penambangan minyak terdapat di berbagai tempat, misalnya Aceh, Sumatera Utara , Kalimantan , dan Irian Jaya.Minyak mentah (crude oil) berbentuk cairan kental hitam dan berbau kurang sedap. Minyak mentah belum dapat digunakan sebagai bahan bakar maupun untuk keperluan lainnya, tetapi harus diolah terlebih dahulu.
Minyak mentah (cruide oil) mengandung sekitar 500 jenis hidrokarbon dengan jumlah atom C-1 hinggga 50, karena titik didih karbon telah meningkat seiring bertambahnya jumlah atom C dalam molekulnya. Oleh karena itu, pengolahan (pemurnian = refining) minyak bumi dilakukan melalui distilasi bertingkat, dimana minyak mentah dipisahkan ke dalam kelompok-kelompok (fraksi) dengan titik didih yang mirip. Mula-mula minyak mentah pada suhu sekitar 400°C, kemudian dialirkan ke dalam menara fraksionasi.
Komponen yang titik didihnya tinggi akan tetap berupa cairan dan turun ke bawah,sedangkan yang titik didihnya lebih rendah akan menguap dan naik ke bagian atas melalui sungkup- sungkup yang disebut sungkup gelembung. Makin ke atas, suhu dalam menara fraksionasi itu semakin rendah. Sehingga setiap kali komponen dengan titik didih lebih tinggi akan mengembun dan terpisah, sedangkan komponen yang titik didihnya lebih rendah naik ke bagian yang lebih atas lagi. Demikian selanjutnya sehingga komponen yang mencapai puncak menara adalah komponen yang pada suhu kamar berupa gas. Komponen yang berupa gas ini disebut gas petroleum, kemudian dicairkan dan disebut LPG (Liquified Petroleum Gas).

B.    Pengertian Indutri Kimia
Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.
C. Jenis / macam-macam industri berdasarkan tempat bahan baku yaitu:
1. Industri ekstraktif adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitarContoh : pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan lain lain.
2. Industri nonekstaktif adalah industri yang bahan baku didapat dari tempat lain selain      alam sekitar.
3. Industri fasilitatif adalah industri yang produk utamanya adalah berbentuk jasa yang  dijual kepada para konsumennya.Contoh : Asuransi, perbankan, transportasi, ekspedisi, dan lain sebagainya.



BAB II
PEMBAHASAN

A. Unit Distilasi Atmosferis
    Unit ini bertugas mengubah atau mengolah minyak bumi menjadi produk-produk yang sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan dengan batas batas ekonomis.
    Unit distilasi atmosferis atau Crude Oil Distilation Unit yang disingkat CDU di mengolah minyak mentah dari berbagai sumur-sumur minyak di sekitar wilayah tambang. Masing-masing minyak mentah mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga dalam pengolahan memerlukan kondisi operasi yang berbeda-beda. Seperti halnya minyak mentah yang terdapat di sumur-sumur minyak. Minyak mentah dari lapangan Kawengan berjenis HPPO (High Pour Point Oil) dan bersifat para-k finis sedangkan dari lapangan berjenis LPPO (Light Pour Point Oil) dan bersifat napthenis.

Diagram aliran proses

1.    Proses Peralatan

a.    Heat Exchanger

    HE berfungsi sebagai alat penukar panas antara minyak mentah yang akan masuk ke furnace dengan residu yang akan masuk ke cooler sehingga panas yang terkandung dalam residu dapat dimanfaatkan untuk menaikkan suhu minyak mentah dan beban furnace menjadi lebih ringan. Jenis HE yang digunakan adalah Shell and Tube Heat Exchanger, yang berjumlah 3 buah disusun secara seri.

b. Furnace

        Furnace merupakan dapur pemanas yang berfungsi untuk memanaskan minyak mentah sampai suhu tertentu. Di sini maksimal suhu yang diperbolehkan adalah 350oC, karena bila lebih dari 350oC dapat terjadi proses cracking atau rengkahan yang besar pada minyak bumi tersebut.

        Jenis furnace yang digunakan adalah tipe box dengan dinding terbuat dari batu tahan api berlapis dua untuk menghindari adanya kehilangan panas. Furnace ini terdiri dari 2 bagian utama, yaitu:
•    Ruangan Radiasi
    Dalam ruangan ini pipa-pipa yang berisi minyak mentah terkena panas secara langsung dari dinding yang dilapisi refraktoris. Pipa-pipa tersebut susunannya dibuat zig-zag untuk memaksimalkan kontak panas.
•    Ruangan Konveksi
    Dalam ruangan ini pipa-pipa yang berisi minyak mentah terkena panas konveksi di mana gas panas mengalir melalui celah-celah pipa.
        Bahan bakar yang digunakan dalam furnace adalah fuel oil (residu), fuel gas dan juga steam. Sehingga sistem pembakaran yang digunakan adalah sistem pembakaran dengan steam untuk atomizing (pengkabutan) dengan maksud untuk membuat kabut minyak bakar agar minyak bakar mudah berkontak dengan O2 sehingga mudah terbakar. O2 diambil dari udara sekitar secara alamiah berdasarkan perbedaan tekanan dalam ruang pembakaran. Pengambilan secara alamiah ini dengan cara mengatur stack damper furnace.
c. Evaporator

        Evaporator berfungsi sebagai alat pemisah antara fraksi ringan dan fraksi berat yang tercampur di dalam minyak mentah dengan cara penguapan yang sebelumnya telah mendapat pemanasan di dalam furnace. Fraksi ringan di sini berbentuk uap dan fraksi berat berbentuk cair. Fase uap akan keluar melalui bagian puncak evaporator sebagai campuran minyak bumi sedangkan fase cair keluar melalui bagian dasar evaporator sebagai residu.

        Evaporator dipasang vertikal. Untuk memudahkan pemisahan dengan cara penguapan maka dapat disuntikkan steam dari bagian bawah evaporator. Penyuntikan steam ini berfungsi untuk menurunkan tekanan parsial komponen-komponen hidrokarbon sehingga penguapan lebih mudah.




d. Proses Distilasi dengan Kolam Fraksinasi

   
        Kolom fraksinasi berfungsi untuk memisahkan fraksi-fraksi yang terdapat pada fase uap yang berasal dari bagian puncak evaporator dan menara stripper, di mana prinsip dasar pemisahannya menurut titk didih pada tekanan 1 atmosfer. Untuk membantu proses pemisahan, pada bagian bawah kolom diinjeksikan steam. Hal ini untuk menurunkan tekanan parsial dari fraksi-fraksi minyak bumi sehingga didapat titik didih yang rendah. Contoh Menara fraksinasi pada industri minyak bumi:

1.     Menara fraksinasi C-1A dengan jumlah plate 21 buah.
        Umpan untuk fraksinator C-1A adalah fraksi ringan yang berupa fase uap yang keluar dari bagian puncak evaporator dan menara stipper C-3, C-4, serta C-5. Untuk membantu terjadinya kontak antara fase uap dan fase cair serta menstabilkan suhu di puncak menara maka dimasukkan refluk Naphta pada bagian atas menara. Hasil puncak keluar berupa fase uap dan diumpankan ke fraksinator C-2 dan hasil bawah berupa fase cair dan dikeluarkan sebagai PH Solar. Hasil side stream diambil sebagai produk Pertasol CC dan ada yang diumpankan ke menara stripper C-3 dan C-4.
   
2.     Menara fraksinasi C-2 dengan jumlah plate 16 buah.
        Umpan diambil dari hasil atas (puncak) fraksinator C-1A yang berupa fase uap. Hasil atas fraksinator C-2 adalah fase uap yang berupa uap Pertasol CA dan hasil bawah fase cair yang keluar sebagai naphta yang kemudian digunakan untuk refluk pada kolom C-1 .Dan hasil side stream dari fraksinator C-2 dikeluarkan sebagai Pertasol CB.
   
   
e.    Stripper

        Alat ini berfungsi untuk menguapkan fraksi ringan yang masih terkandung di dalam fraksi berat. Untuk memudahkan penguapan, dari bagian bawah stipper disuntikkan steam.

Gambar 2.5   Alat stripper pada pengolahan minyak bumi

Contoh Kolom stripper adalah:
1.     Residu Stripper (C-5) dengan jumlah plate 6 buah.
        Residu Stripper (C-5) berfungsi untuk menguapkan kembali fraksi-fraksi ringan yang terkandung dalam produk residu sebagai hasil bawah evaporator, sehingga terpisah sebagai fase uap keluar dari puncak stripper dan kemudian diumpankan ke kolom fraksinasi C-1A. Sedangkan hasil bawah stripper keluar sebagai residu.
   
2.     Solar Stripper (C-4) dengan jumlah plate 6 buah.
        Solar Stripper (C-4) berfungsi untuk menguapkan kembali fraksi ringan yang masih ada dalam produk solar sehingga terpisah sebagai fraksi ringan yang berupa uap dan keluar dari hasil puncak stripper kemudian masuk kembali ke kolom fraksinasi C-1A. Sedang fraksi berat yang berupa cair keluar dengan hasil bawah stripper sebagai produk solar.
3.     Kerosin Stripper (C-3) dengan jumlah plate 7 buah.
        Kerosin Stripper (C-3) berfungsi untuk menguapkan kembali fraksi ringan yang  masih terkandung dalam produk kerosin, sehingga terpisah menjadi fraksi berat dan fraksi ringan. Fraksi ringan berupa uap yang keluar dari hasil puncak stripper dan masuk kembali ke kolom fraksinasi C-1A. Sedang hasil bawah stripper keluar sebagai kerosin.
f.    Kondensor

    Kondensor berfungsi untuk mengembunkan uap yang keluar dari puncak kolom fraksinasi. Di dalam condensor terjadi perubahan fase, yaitu dari fasa uap ke fase cair dengan bantuan air sebagai media pendingin yang melewati tube sedangkan uap fraksi ringan melewati shell. Contoh condenser yang di gunakan pada pengolahan minyak bumi, yaitu CN-1 s.d. CN-12.

g.    Cooler

        Cooler berfungsi untuk menurunkan temperatur atau mendinginkan produk-produk minyak yang keluar dari kolom fraksinasi, kolom stripper, heat exchanger maupun condensor dengan air sebagai media pendingin sampai suhu yang dikehendaki tanpa adanya perubahan fase. Adapun jenis cooler jenis cooler yang digunakan adalah Box Cooler dimana terdapat coil sebagai tempat mengalirkan cairan panas yang akan didinginkan, sedangkan media pendingin digunakan air yang berada di dalam box.

h.    Separator

    Separator berfungsi untuk memisahkan air produk minyak bumi dan gas yang terikut dalam produk berdasarkan perbedaan densitas. Air mempunyai densitas yang lebih besar dibanding  minyak, dengan demikian akan mudah untuk dipisahkan dengan jalan mengalirkannya melalui bagian bawah separator.

i.    Pompa

        Fungsi pompa di kilang adalah untuk mengalirkan cairan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Pompa yang digunakan adalah jenis pompa reciprocating (torak) dengan menggunakan  penggerak berupa uap air (steam) dan pompa centifugal dengan penggerak motor listrik.
Penggunaan pompa menurut fungsinya adalah sebagai berikut:
1.    Pompa Umpan (feed)
Digunakan untuk memompa umpan yang berupa crude oil (minyak mentah) dari tempat penampungan ke kilang.
2.    Pompa Reflux
Pompa ini digunakan untuk memompa gasoline reflux ke kolom C-1 dan kolom C-2.
3.    Pompa Fuel Oil
Digunakan untuk memompa bahan bakar minyak (fuel oil) ke dapur/furnace dan boiler.
4.    Pompa produksi dan Distribusi
Digunakan untuk memompa produk dari satu tangki ke tangki yang lain.

B. Uraian Proses Produksi

        Minyak mentah dari lapangan minyak yang memenuhi persyaratan dipompakan dari tangki penampung menuju evaporator yang sebelumya dilewatkan heat exchanger dan furnace terlebih dahulu. Di dalam HE minyak mentah mengalami pemanasan awal dengan memanfaatkan panas yang berasal dari residu stripper dan solar stripper. Residu masuk HE pada suhu 300oC dan keluar pada suhu 120oC. Minyak mentah masuk HE pada suhu 30oC dan keluar pada suhu 105oC. Setelah dari HE minyak mentah kemudian dimasukkan furnace untuk mendapat pemanasan lebih lanjut, sehingga keluar pada suhu 330oC.
        Minyak mentah dari furnace kemudian dimasukkan dalam evaporator untuk dapat dipisahkan antara fraksi berat dan fraksi ringannya. Untuk memudahkan pemisahannya disuntikkan steam dari bagian bawah evaporator. Hasil puncak evaporator berupa uap (fraksi ringan) yang selanjutnya dimasukkan ke dalam kolom fraksinasi C-1A. Hasil atas evaporator ini merupakan campuran dari fraksi-fraksi solvent (pertasol), Kerosin, Solar dan PH Solar.  Sedangkan produk bawah evaporator berupa cairan (fraksi berat) yang kemudian masuk dalam residu stripper C-5.
        Di dalam C-5 terjadi pemisahan fraksi ringan yang terbawa oleh residu. Fraksi ringan yang terpisah akan keluar sebagai hasil puncak C-5 dan masuk C-1A, sedangkan produk bawah masuk HE untuk dilepaskan panasnya lalu dilewatkan cooler agar dingin dan ditampung dalam tangki penampung.
        Hasil puncak dari kolom fraksinasi C-1A berupa uap pertasol yang diumpankan kembali ke kolom C-2 untuk dipisahkan menjadi solvent ringan (Pertasol 2), solvent sedang (LAWS 3). Uap Pertasol CA yang keluar melalui top kolom C-2 dicairkan di kondensor, dan didinginkan di cooler terus ke separator lalu masuk ke tangki penampung produk Pertasol CA.
        Dari side stream  kolom C-2 diambil sebagai produk pertasol CB dan bottom kolom C-2 diambil sebagai Naphta kemudian di refluk pada kolom fraksinasi C-1. Produk pertasol CB dari side stream dimasukkan ke cooler, separator, kemudian ke tangki penampung Pertasol CB.
        Pada kolom fraksinasi C-1 side stream paling atas kolom C-1 diambil produk Pertasol CC, kemudian masuk ke cooler, separator kemudian ketangki penampung Pertasol CC. Sedangkan side stream bagian tengah kolom C-1 dimasukkan ke dalam stripper kerosine (C-3). Hasil atas stripper kerosin dikembalikan ke menara fraksinasi C-1, sedangkan hasil bawah stripper berupa produk kerosin yang kemudian dimasukkan ke cooler untuk pendinginan, lalu dipisahkan kandungan airnya di separator. Setelah terpisah, produk kerosin di masukkan ke dalam tangki penampung kerosine.
        Side stream paling bawah kolom C-1 dimasukkan ke dalam stripper solar  (C-4) . Hasil puncak C-4 dikembalikan ke menara fraksinasi C-1 ,sedangkan hasil bawah C-4 diambil sebagai  produk solar. Dari hasil bawah stripper, solar selanjutnya dilewatkan HE-1 untuk mengalami peristiwa penukaran panas, kemudian didinginkan di cooler dan dipisahkan airnya di separator lalu disimpan di tangki penampung.
        Sedangkan PH Solar merupakan Produk bawah dari kolom fraksinasi C-1. PH Solar merupakan bahan baku di pabrik lilin. PH Solar setelah disimpan di tangki penampung kemudian dipompakan ke pabrik lilin/Wax Plant untuk di proses lebih lanjut.


Dari  bagian Crude Distilation Unit (CDU) secara keseluruhan dihasilkan produk:
1.    Pertasol CA, Pertasol CB, Pertasol CC yang semuanya digunakan sebagai    pelarut.
2.    Kerosin untuk minyak lampu atau bahan bakar (kompor).
3.    Solar untuk dahan bakar diesel.
4.    Residue untuk bahan bakar pada industri.
5.    PH Solar untuk umpan/bahan baku wax plant/ pabrik lilin.

C. Unit Produksi Malam (Wax Plant)

        Unit wax plant merupakan unit pengolahan parafin solar (PH Solar) menjadi malam batik. Produk utama unit ini adalah malam batik dan sampingannya adalah A Filter Oil (AFO) yang dipakai sebagai campuran minyak bakar dan sebagai bahan pencelup serat karung goni.

D. Alat Pendukung Proses Produksi Malam (Wax)

a.    Chiller
        Merupakan alat pendingin PH Solar yang keluar dari kilang. Alat ini merupakan penukar panas jenis double pipe. Pipa bagian luar merupakan saluran pendingin dengan air sebagai media pendingin sedang pipa bagian dalam merupakan saluran bahan yang akan didinginkan. Chiller terdiri dari 12 pipa yang dipasang sejajar dan bertingkat enam.

Gambar 2.10   Chiller pada pengolahan minyak bumi

b.    Filter Press
        Alat ini berfungsi untuk memisahkan kristal wax dari kandungan minyaknya dengan cara memberi tekanan yang berasal dari umpan yang dipompakan.
        Filter press terdiri dari plate dan frame plat yang merupakan pelat baja yang berbentuk bujur sangkar dengan lubang-lubang kecil. Pada setiap plate dipasang kain penyaring sehingga slack wax terjaring diantara kedua plate. Sedang frame merupakan bingkai baja yang pada bagian tepinya dibuat lubang kecil sebagai tempat  menyalurkan filtrat.

c.    Screw Conveyor
        Screw Conveyor digunakan untuk mendorong hasil kristal wax dari bagian bawah filter press ke dalam tangki penampung.


d.    Tangki Sweater
        Tangki sweater bertugas untuk memisahkan sweat wax dari kandungan minyak dengan cara pengeringatan (Sweating), alat ini disebut juga Allan More Stove (AMS). Tangki ini berbentuk silinder tegak yang di dalamnya dibagi atas 7 ruang dan dipasang 15 coil masing-masing ruang yang berfungsi untuk pendinginan maupun pemanasan tergantung bahan yang mengalir di dalamnya. Umpan masuk dari atas dan akan mengisi ruangan yang paling bawah terlebih dahulu dan kemudian ke ruangan yang di atasnya. Air masuk dari bagian bawah dan mengalir di dalam coil-coil.

e.    Pengaduk
        Pengaduk berfungsi sebagai sarana pencampuran clay dengan minyak dalam proses treating dari sweat wax.

f.    Tangki
        Tangki-tangki berfungsi sebagai penampung bahan baku dan produk. Pada setiap tangki dilengkapi dengan coil-coil pemanas agar kondisi operasi dapat dijaga.

g.    Pompa
        Pompa digunakan untuk mengalirkan bahan baku produk dan air pendingin.  Ada 3 jenis pompa yang digunakan, yaitu:
    Centrifugal pump
Digunakan untuk memompakan air pendingin yang akan masuk kedalam chiller dan Sweater tank.
    Reciprocating pump
Digunakan untuk memompakan PH Solar yang akan masuk ke dalam chiller dan hasil produksi serta loading (pengisian)
    Plunger pump
Digunakan untuk memompakan slurry yang berasal dari chiller kedalam filter press.

h.    Pan/Loyang
        Pan adalah alat yang digunakan untuk mencetak malam (wax) yang keluar dari filter press pada proses treating.


E. Uraian proses

        Empat tahapan pengolahan PH Solar menjadi malam (wax) adalah sebagai berikut:
a.    Proses Dewaxing
        Proses dewaxing bertujuan untuk memisahkan kandungan minyak dengan cara pendinginan. Pertama-tama PH Solar dimasukkan dalam tangki penampungan kemudian dipompakan ke dalam chiller. Di dalam chiller terjadi pendinginan. Setelah melalui chiller maka kristal wax dimasukkan dalam tangki penampung, kemudian dipompakan ke filter press.
        Bagian yang tertahan pada kain penyaring dinamakan Slack Wax dan filtratnya adalah A Filter Oil (AFO). Slack Wax dibongkar dalam 6 jam didiamkan. Hal ini agar slack wax dalam keadaan maksimal untuk diambil dan AFO-nya sudah habis. Kemudian slack wax ditampung di dalam tangki penampung. Untuk mempermudah pengangkutan ke tangki digunakan alat bantu screw conveyor. Di dalam tangki slack wax menjadi bentuk cake, kemudian dicairkan untuk mempermudah dalam perpompaan.

b.    Proses sweating
        Dalam proses sweating terjadi pemisahan slack wax dari kandungan minyak dengan cara pengeringatan (sweating). Slack wax dari tangki penampung dipompakan ke AMS. Slack wax di dalam AMS didinginkan selama 2 hari. Untuk proses pengeringatan dibantu oleh steam. Suhu di AMS diatur agar naik       0,5oC/ jam. Sweat wax bersuhu di atas 58oC. Sedangkan hasil lain dari AMS adalah Recycle Hight Foots Oil (HFH) dan Light Foots Oil (LFH). HFH dikeluarkan dan diumpankan kembali ke dalam AMS, sedangkan LFH dicampur dengan PH Solar sebagai umpan masuk chiller.




c.    Proses Treating
        Sweat wax hasil dari AMS dimasukkan dalam tangki penampung, kemudian dipompakan ke dalam pengaduk (agitator). Di dalam agitator juga ditambahkan udara tekan dan natural clay. Tetapi jika sweat wax sudah masuk spesifikasi, dalam prosesnya hanya sweat wax yang dilewatkan ke dalam agitator. Hasil dari agitator kemudian langsung masuk dalam proses moulding.

d.    Proses Moulding
        Pada proses ini terjadi pencetakan wax. Caranya yaitu dengan menyalurkan hasil dari agitator melaui pipa-pipa ke dalam pan-pan pencetak wax. Pan disusun dari atas ke bawah, kemudian wax diisikan dari pan paling atas. Setelah pan atas penuh maka wax akan mengalir ke pan bawahnya begitu seterusnya sampai seluruh pan penuh. Kemudian wax didiamkan selama 1 hari. Setelah sehari, wax diambil dari cetakan dan dimasukkan dalam karung,  kemudian ditimbang dan siap untuk dipasarkan


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Panas akan mengalir dari benda bertemperatur tinggi ke benda yang bertemperatur lebih rendah. Mekanisme perpindahan panas yang terjadi dapat berupa konduksi, konveksi, atau radiasi. Dalam aplikasinya, ketiga mekanisme ini dapat saja berlangsung secara simultan.

•    Konduksi ( keadaan steady )
Suatu material bahan yang mempunyai gradient, maka kalor akan mengalir tanpa disertai oleh suatu gerakan zat. Aliran kalor seperti ini disebut konduksi atau hantaran.

•    Konveksi
Arus fluida yang melintas pada suatu permukaan, maka akan ikut terbawa sejumlah enthalphi. Aliran enthalphi ini disebut aliran konveksi kalor atau konveksi. Konveksi merupakan suatu fenomena makroskopik dan hanya berlangsung bila ada gaya yang bekerja pada partikel atau ada arus fluida yang dapat membuat gerakan melawan gaya gesek

•    Radiasi ( pancaran )
Pada radiasi panas, panas diubah menjadi gelombang elektromagnetik yang merambat tanpa melalui ruang media penghantar. Jika gelombang tersebut mengenai suatu benda, maka gelombang dapat mengalami transisi ( diteruskan ), refleksi ( dipantulkan ), dan absorpsi ( diserap ) dan menjadi kalor.

Pada makalah ini di sampaikan aplikasi perpindahan panas pada alat-alat yang di gunakan pada pengolahan minyak bumi. Missal pada menara fraksinasi, furnance, cooler, heat exchanger, separator dan lain-lain.




DAFTAR PUSTAKA


http://library.usu.ac.id/download/ft/tkimia-halima.pdf
http://www.scribd.com/doc/4466066/MINYAK-BUMI-AMY
http://www.findtoyou.com/ebook/download-perpindahan+panas+holman-1201900.html
www.docstoc.com


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar